Untitled
DRAFT diskusiiii lagi, diskusiiii terus

judul diatas merupakan semacam trademark, ciri khas anak sttj, inside joke yang dipahami dengan baik oleh para mahasiswa, karena memang itulah yang setiap hari kita lakukan, di kelas, di perpustakaan, di saung, di kantin, bahkan di lorong-lorong.
namun kemudian timbul satu pertanyaan: apa hasil diskusinya?? dan seringkali kita bingung, tidak tahu apa kesimpulannya. Malah terkadang diskusi itu sudah begitu jauh sehingga kita melupakan apa sebetulnya yang sedang didiskusikan.
ada beberapa sikap yang dimiliki oleh rata-rata mahasiswa sttj yang menyebabkan hal ini, menurut pengamatan saya tentunya.
Yang pertama, kita yang dididik untuk bersikap terbuka terhadap pandangan-pandangan lain. Hasilnya? Dalam sebuah diskusi timbul pernyataan seperti ini: “saya setuju terhadap pandangan A, karena begini begitu. Tapi saya setuju juga dengan pandangan Z, karena bla bla bla…” padahal kedua pandangan tersebut bertentangan! Lalu sebetulnya yang kita setujui yang mana? Bukankah itu namanya bersikap plin-plan?
Yang kedua, karena dididik untuk berpikiran kritis mungkin, kita seringkali menyampaikan kritik-kritik terhadap segala sesuatu. Tapi tidak pernah ada solusinya! Bahkan terkadang tidak ada alasannya. Kita juga memunculkan ide-ide baru, tapi tidak pernah ada dasarnya, dan juga jarang ada follow-upnya.
Yang ketiga, entah mengapa kita lebih suka berdiam diri ketika diskusi mulai mbulet, dan kita menyadarinya. Kenapa? Falsafah padi kah? Atau jangan-jangan kita kurang pe-de saja?
Dan masih ada juga poin-poin lainnya.